Bukan Pilihan

Hope

Sudah waktunya potong rambut lagi…” rambutnya sudah mulai gondrong, saya membuat catatan dalam hati.

Kenapa Mommy?

Aduh, dia nanya apa? “Kenapa apa? Maaf tadi Mommy lagi mikir kamu udah harus potong rambut lagi.

Kenapa Mommy harus kerja lagi?

Saya menarik napas panjang…dada rasanya berat. Tangan saya masih mengelus-ngelus rambut lebatnya.

Karena Mommy harus cari uang untuk bayar sekolah kamu. Supaya kamu bisa ikutan ekskul di sekolah…” dan supaya kamu bisa ter-cover oleh asuransi kesehatan, yang terakhir ini saya nambahin dalam hati saja.

Mommy kerjanya di luar kota nggak?” Mungkin dia inget kejadian saya ke Bali tahun lalu.

Nggak kok sayang, Mommy cari kerja di sini aja.

Ok…” dia memeluk saya kenceng dan saya pun memeluk balik dengan kenceng sampai dia tertawa. Saya bisikkan ditelinganya sambil menahan air mata kalau saya hanya minta dia belajar dengan baik di sekolah dan bersikap dengan baik.

You know I love you and I will always be there for you, right?

I love you Mommy…” dan di balik gelapnya kamar, air mata saya tertumpah lagi.

Saya masih ingat betul ekspresi khawatir dari wali kelas si bocah saat saya beritahukan kalau saya akan pindah ke Bali tahun lalu. Menurut si Miss perilaku anak saya banyak berubah sejak saya berhenti kerja.

Sudah hampir seminggu ini saya mulai meragukan keputusan saya untuk bekerja dari rumah. Saya mulai berpikir mungkin saya harus kembali bekerja full time.

Bekerja dari rumah dengan mengandalkan tulisan-tulisan saya sayangnya tidak cukup untuk menghidupi kebutuhan hidup kami berdua. Sebagai orang tua tunggal, saya sadar saya tidak bisa bergantung dengan orang lain. Semakin besar anak saya, semakin besar juga kebutuhannya. Saya mulai keteteran…walaupun orang tua saya banyak membantu dengan memenuhi kebutuhan sekolah anak saya, hati ini sadar betul kalau saya harus secepatnya mencari jalan lain.

Bekerja dari rumah itu menyenangkan dan nyaman buat saya, tidak perlu bermacet-macet. Saya bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan si bocah, saat dia pulang sekolah saya juga ada di rumah. We are happier.

Tapi saya sadar kenyamanan itu harus saya singkirkan dulu demi masa depan anak saya. Saya tidak bisa bergantung dengan orang lain. Saya pun mulai merapihkan resume saya dan mulai ngirim-ngirim surat lamaran kiri dan kanan sambil meyakinkan diri sendiri bahwa si bocah will be fine.

Semoga jalannya terbuka.

Tulisan ini adalah versi Indonesia tulisan saya di (The English version of this post can be found on:) World Moms Blog.

Comments

comments

If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future blog posts deliver straight to your inbox. Komentar dengan Bahasa Indonesia juga boleh loh jangan malu-malu ya.

5 Comments on Bukan Pilihan

  1. nunungyuni
    January 23, 2015 at 10:05 pm (3 years ago)

    Selalu ada resiko dari.keputusan yang kita ambil ya mak.Tetap.semangat dan optimis ya demi si kecil.

    Reply
  2. Lorraine
    January 25, 2015 at 8:20 pm (3 years ago)

    Sukses ya Oyen, semoga dapet pekerjaan yang cocok.
    Lorraine recently posted..Ngga nyamanMy Profile

    Reply
  3. Rina
    April 21, 2015 at 10:42 am (3 years ago)

    He will be okay, he will turn into a fine young man. Kayak eike *halah hahaha…I was raised by a single mom since I was 2 yrso. Often I had to stay at a friend’s house until my mom finished work and came to pick me up from there. I used to feel jealous when I saw other kids picked up their rapport with their mom and dad, I used to feel a little down when friends asked where my dad was. An aunt would stay with me when my mom had to leave for work out of town for days sometimes weeks. But then, I got a computer set by junior high, I could go to Bali when I was only 9 yrso and visited other places due to her work. We never owned a car but that’s okay. I am grateful now, and more. There are other people with complete parents but are less happier than I was. You are a great and strong mom darla…He will be just fine. 🙂
    Rina recently posted..Snapseed FunMy Profile

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment *






CommentLuv badge