Lifestyle and travel blogger, founder of Single Moms Indonesia on a quest of finding joy in everyday life and living life to the fullest with kindness, compassion, grace and a bit of sass.

Posts by this author:

Review Passpod Modem 4G

Salah satu perlengkapan yang wajib saya bawa untuk traveling ke luar negeri adalah Travel Modem. Kenapa wajib? Baca selengkapnya di bawah ya, guys.

Review Passpod Modem 4G

Setelah mendapatkan jadwal pertemuan terakhir untuk Facebook Community Leadership Program (Meetup 3) di kantor pusat Facebook di Sillicon Valley beberapa bulan lalu dan setelah confirmed berangkatnya kali ini bakalan berdua dengan ipar saya, kami pun berniat untuk lebih mengeksplor San Francisco.

Kami menyusun Itinerary tempat-tempat yang akan kami kunjungi selama di sana dan pasti semuanya butuh koneksi Internet yang terjamin kan jadi lah kami milih untuk menyewa Passpod Modem 4 G dan memang pilihan kami ini nggak salah deh. Berikut alasan kenapa kami jatuh cinta dengan Passpod Modem 4G:

Proses Pemesanan Super Gampang!

Cukup dengan menghubungi Customer Service Passpod, kita bisa memilih untuk self pick up Passpod Modem-nya atau mau dikirim ke rumah. Waktu itu saya memilih dikirim ke alamat rumah biar bisa baca-baca kelengkapannya sebelum berangkat. Dan voila, paketnya diantarkan kurir dalam waktu sehari setelah pemesanan. Oh ya, seneng juga karena paketnya datang lengkap dengan power bank kecil untuk memastikan modem bisa terus nyala dong selama trip. Paket Passpod Wifi include case yang gampang dibawa, isinya lengkap: portable wifi, user guide, adaptor charger, kabel charger dan power bank. Praktis banget, jadi pouch Passpod tinggal dicemplungin aja ke dalam tas.

Langsung Berselancar Dengan Koneksi 4G!

Begitu pesawat kami mendarat di bandara San Francisco International Airport (SFO), saya langsung nyalain Passpod Modem dan bener saja langsung terkoneksi dan karena Modem cute ini (yes, I love the shape!) bisa menghubungkan 5 gadget sekaligus artinya ipar saya juga bisa nikmatin koneksi internet 4G ini walaupun ternyata saat penerbangan dari Taipei ke San Francisco bangku kami terpisah tapi karena sebelum berangkat password Passpod sudah disaved jadi ipar saya juga bisa langsung terhubung begitu kami mendarat.

Aman tentram dan tetap bisa berinternetan di negara orang itu adalah kunci!

Perjalanan ke San Francisco kali ini memang lebih spesial karena selain untuk pertemuan terakhir (Meetup 3) saya dalam rangka Facebook Community Leadership Program, kali ini saya berangkat barengan ipar yang juga sama-sama pecinta traveling dan kami memutuskan untuk stay beberapa hari untuk menjelajah San Francisco setelah event dengan Facebook selesai. Total 10 hari kami di San Francisco dan selama di sana semuanya aman tentram soal urusan koneksi internet thanks to Passpod!

Nah, serunya selama saya sibuk 4 hari penuh berkegiatan dengan Facebook, ipar saya bisa keliling San Francisco dengan aman dan saya pun tenang nggak khawatir berlebihan karena ipar saya bisa tetap WhatsApp-an, bisa pakai Google map selama dia jalan-jalan sendiri kan.

Jadilah ipar saya bisa tetap posting Instagram Story saat dia jalan-jalan ke Golden Gate Bridge, ke Walt Disney museum dan tempat-tempat keren lainnya di San Francisco area. Kemudahan berselancar dengan speed 4G ini bikin hati bahagia pokoknya.

Tidak hanya koneksi 4G-nya cepet banget di San Francisco, kami sempat nekat menyisihkan 1 hari untuk jalan-jalan ke Los Angeles dari San Francisco lewat jalan darat. Yup, we took an overnight bus alias bus malam dari San Francisco yang perjalanannya memakan waktu sekitar 7 jam. Bus-nya bertolak selepas midnight dan tiba di Downtown Los Angeles pagi sekitar jam 6 lewat. Kami seharian keliling di Los Angeles dan bisa tetap update Instagram Stories pastinya. Silahkan kepoin di Highlight Story saya yah. Kami kembali ke San Francisco malam itu juga sebelum tengah malam dengan bus yang sama. Terlalu seru petualangan kami dan nanti saya bagikan di postingan selanjutnya ya. Stay tuned!

Awalnya agak deg-degan juga kami karena memang belum pernah ke Los Angeles apalagi naik bus malam tapi ternyata koneksi Passpod 4G tetap stabil, kenceng dan kami bisa tetap terkoneksi jadi urusan explorasi berjalan lancar.

Proses Pengembalian Passpod 4G

Nah, sekembalinya kami ke tanah air kami punya opsi untuk mengembalikan Passpod langsung di Bandara sebenarnya tapi karena kami sudah kelelahan setelah perjalanan panjang dari San Francisco – Manila, Filipina – Jakarta, akhirnya kami memutuskan untuk mengembalikan Passpod 4G keesokan harinya lewat Alfa Midi terdekat saja.

Opsi pengembalian Passpod:

  • Di Bandara Soekarno Hatta digital lounge yang terletak di Terminal 2 dan Terminal 3
  • Alfamart se-Jabodetabek (via kasir melalui alfatrax dengan kode booking: Passpod)
  • Pick up oleh kurir Passpod (ini hanya berlaku untuk alamat di Jakarta saja)
  • Pengembalian langsung  ke kantor Passpod di Jl. KH. Hasyim Ashari, Ruko Roxy Mas Blok C2 No. 37 Cideng. Gambir. Jakarta Pusat 10150

Prosesnya juga super praktis dan cepat. Saya hanya perlu packing semuanya dan menyerahkan paket ke kasir di Alfa Midi dan saya menerima receipt pengiriman yang saya foto dan kirimkan ke Customer Service Passpod. Oh ya, bonus point banget karena Customer Service Passpod gercep, ramah dan sangat membantu disaat saya ada pertanyaan. Bravo, Passpod!

Kesimpulannya gimana? Puas banget, kawans! Asli, nggak akan menyesal siapin Passpod sebelum berangkat ke luar negeri deh. It will make your life so much easier knowing you can get high speed internet overseas.

Gimana? Tertarik buat nyobain Passpod 4G untuk jalan-jalan ke luar negeri nanti? Passpod ngasih diskon nih khusus untuk teman-teman Scoops fo Joy! Silahkan gunakan discount code saya: SOJ19 untuk mendapatkan diskon sebesar 10%. Nanti kuponnya dimasukkan saat check out ya.

Langsung follow juga kepoin Passpod ya, guys.


Website: Passpod

Instagram & Facebook Page

Customer Service via WhatsApp


Thank You 2018

2018 has just come to an end.

And I’ve been thinking, examining, looking back deeply into the previous year and what a journey it has been. Both for me personally and for the community, I started 4 years ago Single Moms Indonesia.

Thank You 2018

On a personal level, 2018 was rough but also the year that propelled me to finally faced a lot of my false beliefs, my old demons, that led me to stand tall and take full control instead of feeling like I’m not good enough. The Universe brought me occasions and people that really pushed me to step into my authentic self. It’s not easy!

And in 2018 I faced them head-on…I was given opportunities to stand tall and draw the lines whenever they needed to be drawn to. I’m still getting used to it to be brutally honest. This girl who used to be timid, who used to just suck it up and ended up silently brewing from resentments when others crossed their boundaries has finally got fully awakened in 2018.

Life handed me a stick and brutally said “Here you go! You draw the line…”

And drawing the line I went.

How does it feel?

Hella good! I tell ya! Knowing that the world didn’t collapse after I clearly and lovingly draw the lines, setting my boundaries was such a relief. Knowing that I no longer need to feel guilty for standing my grounds took a ton of weights off of my shoulder.

That imposter syndrome is real, yo!

One of the biggest lesson of 2018 is how to deal with that Imposter Syndrome I’ve been covering myself up with for the past few years.

It took a company as big as Facebook to opened my eyes.

“People who create community online don’t usually think of themselves as leaders. However, at Facebook we know that the dedication, vision and passion Admins bring to their work are true leadership qualities. Therefore, we recognize you as leaders-even if you don’t see yourself that way!”

Facebook Community Leadership Program Team

The line above came from the acceptance email Facebook sent me and it spoke right to my core. Of course, I started bawling my eyes out after I read that. Why? Because Oh My God! That’s exactly how I feel. I never seen myself as leader before. Our community purely were born out of my own wishes to have a safe space for us single mothers to come together and support each other.

Accidental Leader. That’s how it felt before. I never seek to be the face of our community; never did I dream that I would be on TV talking with the Women Empowerment Minister or any other TV stations for that matter.

That’s why every time someone handed me a microphone I would freeze. My stomach would turn into a big “What the heck am I doing?” knot that gave me cold sweats. For 4 years I happily run the group from behind the scene. Being in the spotlight was something I’m not used to or comfortable with but with the rate that we are growing, I have to put myself out there.

That’s why the Universe sent me people who love to be in the spotlight but said the wrong things that took away our core key messages and it drove me nuts. That’s why the Universe send me people who nudged me to draw the boundaries.

Knowing that it’s more than OK to step into the spotlight to share our community’s stories because I am the founder after all is such a huge epiphany moment for me. I know the history of our community like the back of my hand because I nurtured it with the help of those who truly care.

Facing that Imposter Syndrome hasn’t been easy. Some days I feel like I got it, that I’m in the groove of things. Some days, I doubt my ability to take our community to the next level. And this is when I recognize how there’s no such thing as coincidence because whenever doubts start to crept back in, I had people that reminded me of my abilities and my passions. They shone lights back into my life and clear my conscience whenever I started to worry. To these earth’s Angels, I owe my gratitude.

2018 has taught me so many valuable lessons indeed.

Lessons in letting go of people, places and dreams that no longer serves my highest goods.

Lessons in drawing the lines whenever they are necessary to be drawn to.

Lessons in surrounding myself with the right tribe who strives for success as a community instead of individuals

Lessons in being vulnerable and sharing honestly to the members of our community

Lessons in daring to dream big, bigger than I ever thought possible

Lessons in facing the world with my head held up high

Lessons in owning my own power and step into that box of greatness

Lessons in being fearless and lead with passions, kindness and grace

Lessons in growing confidently into the role that I was meant to be

So, thank you 2018.

Thank you to those who support me always. Near and far. Your love and faith in me keeps me going even when the going gets tough at times.

Thank you to those who exited my life, for you make rooms for those that were meant to stay in the long run.

Thank you.

2019, I am READY for you.


Tentang Facebook Community Leadership Program

Sudah sebulan lebih sejak saya kembali dari kick-off event Facebook Community Leadership Program di kantor pusat Facebook tapi baru sekarang saya sempat duduk dan berbagi cerita.

Tentang Facebook Community Leadership Program

Tentang Facebook Community Leadership Program

Rasanya memilah-milah apa yang saya alami di sana makan waktu lama banget yah. Sampai postingan ini ditagih Kak Zata hahaha. Banyak sekali kejadian yang mesti saya proses dan olah di dalam diri sendiri. Ditambah sejak kembali dari Silicon Valley, PR saya banyak banget hahaha.

Nah, mungkin saya mulai dengan cerita awal muasal saya bisa sampai ke kantor Facebook yang luar biasa keren itu ya.

FCLP itu apaan sih? Mungkin masih banyak yang belum tau. Pada dasarnya, FCLP ini adalah suatu insiatif baru dari Facebook dalam mendukung pengembangan komunitas dari segala penjuru dunia. Di dalam program berdurasi setahun ini partisipan (atau juga yang disebut sebagai Fellows) akan mendapat pelatihan, bimbingan juga pendanaan untuk program kerja komunitas masing-masing. Info lebih lanjut dapat dibaca langsung di websitenya ya.

Awal Facebook Community Leadership Program

Jadi sekitar awal Mei yang lalu saya melihat salah satu teman di Facebook yang share postingan tentang FCLP. Penasaran saya klik dan baca-baca.

Coba ah…” waktu itu saya mikirnya cuman begitu dan saya lengkapi formulir pendaftarannya beberapa hari sebelum deadline.

Sebulan lebih berlalu sebelum saya terima email dari panitia FCLP untuk video call interview bareng tim mereka dari kantor pusat Facebook di California. Interview-nya di schedule-kan untuk tanggal 1 Juni. Sambil nunggu interview itu saya deg-degan banget. Bakalan ditanyain apa aja yah?

Hari interview tiba dan di Jakarta siang, di sana malam. Prosesnya lebih seperti ngobrol sih karena saya diminta untuk menceritakan soal komunitas kami Single Moms Indonesia. Karena memang saya passionate banget jadi rasanya nggak kerasa hampir sejam saya berbagi kisah bagaimana awalnya SMI terbentuk sampai struggles yang dihadapi members kami.

Akhir Juni, saya terima email lagi dari panitia yang meminta persetujuan saya supaya mereka dapat melakukan background check. Seminggu lebih prosesnya lalu ada email lagi yang meminta saya bikin video berdurasi 2 menit yang menjelaskan kenapa komunitas kita perlu didukung Facebook.

Duh, mendadak mules kan. Saya sebenarnya introvert yang lebih betah kerja di belakang layar jadi urusan ngoceh di depan kamera jujur saya merasa kurang PD. Waktu yang diberikan juga nggak banyak. Deadline tanggal 3 July 2018, video sudah harus di submit.

Oh ya, selama proses ini saya juga terikat non-disclosure agreement lho. Yang artinya, saya nggak bisa share prosesnya dengan komunitas sendiri apalagi posting-posting di Facebook. Ya, iya lah namanya juga masih proses kan.

Tapi untuk urusan video ini saya terpaksa minta bantuan adik saya yang emang sudah biasa bikin video. Tantangan terbesarnya tuh memadatkan konten message ke dalam video yang hanya boleh berdurasi 2 menit. Wah, untung banget adik saya jago ngedit videonya jadi video awal yang kami shoot berberapa kali retake bisa dipadatkan sesuai ketentuan.

Lucunya, waktu proses shooting ini karena saya minta outdoor supaya dapat natural lighting, keponakan saya yang waktu itu berumur 2 tahun dan 5 tahun berseliweran sambil main di luar. Suara keponakan saya yang kecil sempat terekam saat dia dengan semangat memanggil saya “Mamo…Mamo…” sambil berceloteh riang gembira (Catatan: Mamo itu nama panggilan keponakan-keponakan kesayangan untuk saya yang adalah singkatan dari Mama Oyen) Awalnya, adik saya merasa terganggu dengan ‘backsounds‘ ini tapi kata adik ipar saya “Justru ini lah portret single mom yang sesungguhnya.” jadi suara keponakan saya tidak diedit dan dibiarkan menjadi bagian dari video yang saya submit untuk tahapan berikutnya hahaha. Sayangnya, videonya belum boleh saya bagikan, mungkin nanti ya.

Setelah saya submit, lama banget rasanya tidak ada kabar dari panitia. Saya malah sampai sempat berpikir “Wah, sudah sampai ketahap bikin video saja saya sudah bersyukur! Terima kasih semesta.

And life goes on…

or so I thought!

Menang Fellowship Facebook Community Leadership Program

Waktu itu saya sedang bekerja di Asian Games 2018, kondisinya saya sedang menginap bersama salah satu teman yang juga member SMI. Kami sama-sama bertugas sebagai freelance staff di Media Center. Bagun pagi-pagi seperti biasa saya menyalakan handphone.

OMG…OMG…OMG!!!” Saya menjerit dan menangis setelah membuka email yang bagian atasnya berisi:

Congratulations! You’ve been selected as a Fellow for the Facebook Community Leadership Program.

Otomatis teman sekamar saya panik “Mah, kenapa????” dia hampir loncat dari tempat tidurnya sangking kaget dan khawatirnya.

Butuh beberapa menit buat saya untuk menenangkan diri dan memaksa teman ini untuk tutup mulut rapat-rapat. Bersumpah supaya tidak berbagi kabar luar biasa ini ke siapa pun. Yah, mau bohong gimana dia jelas-jelas melihat saya jejeritan dan menangis. Akhirnya kami berdua saling bertangisan hahaahaha, dasar Pisces!

Setelah pemberitahuan dari email itu rasanya makin susah tutup mulut yah, tapi emang itu kewajiban kami untuk diam sampai Facebook melakukan pengumuman resmi yang mereka lakukan di Social Good Summit di New York City pada tanggal 23 September 2018 dan tayang di Newsroom Facebook.FCLP Fellowship

Serunya, sebelum pengumuman keluar, kami para founders sudah terlebih dahulu dicemplungin ke dalam satu group Facebook khusus yang rahasia. Oh ya, total Fellows ada 115 orang termasuk saya dari 46 negara. Ada 5 Residents yang terpilih, juga ada Youth Fellowship. Pertemanan antar benua pun terjalin sebelum kami bertatap muka di kantor Facebook.

Sungguh rasanya nggak percaya komunitas kami yang masih tergolong seumur jagung ini terpilih oleh Facebook dan dianggap sebagai komunitas yang membawa positive changes di masyarakat. Butuh waktu buat saya ‘mencerna’ kabar gembira itu apalagi setelah pengumuman resmi dan saya menerima banyak ucapan selamat dari teman-teman juga keluarga. Melihat foto saya berdampingan dengan Mbak Septi Peni dari Institut Ibu Profesional rasanya seperti mimpi.

Bersama Ibu Septi Peni Wulandani

Hebatnya, coba lihat infografis di bawah ini. Program FCLP ini berasal dari 46 negara tapi 70% pesertanya adalah perempuan. Way to go, to empower women! Keren yah?

Selanjutnya? Seluruh peserta diterbangkan ke kantor pusat Facebook di Menlo Park, California untuk pertemuan pertama dari 3 kali pertemuan yang memang dijadwalkan selama setahun program FCLP. Mau tau kayak apa keseruannya? Stay tuned yah, nanti ceritanya saya lanjutkan lagi.


Java Mifi Review

Setiap kali saya traveling ke luar negeri pasti salah satu yang dipikirin adalah bagaimana caranya bisa tetap internetan selama di sana.

Java Mifi Review

Java Mifi Review

Nah, setelah tiket juga visa ke Amerika saya sudah beres untuk ikutan Facebook Community Leadership Program, saya pun mulai berpikir bagaimana caranya supaya bisa tetap terkoneksi selama di California.

Biasanya saya suka beli SIM Card local tapi kali ini saya pengen yang lebih praktis. Pengen nyobain travel mobile wifi.

Browsing sana-sini dan akhirnya menemukan Java Mifi.

Cara Pesan Java Mifi

  1. Pemesanan bisa dilakukan langsung di website Java Mifi setelah memilih tipe dan jenis mobile wifi yang kamu mau yah.
  2. Pemesanan juga bisa langsung via WhatsApp ke Customer Service Java Mifi.
  3. Tinggal tunggu deh kurir nganterin paket berisi perangkat travel wifi International

Karena tujuan saya ke Amerika, saya milih Java Mifi 4G Wifi True Unlimited dengan pertimbangan pasti bakalan banyak posting Insta Story selama di sana. Paket True Unlimited ini kecepatannya up to 100 Mbps.

Paket Java Mifi datang lengkap banget! Isinya: Manual Guide, Kabel Charger, Travel Adaptor yang bisa dipakai di banyak negara pastinya, dan Pouch.

Java Mifi

Java Mifi Back

Penggunaan Java Mifi di Taiwan dan California

Hari yang saya tunggu-tunggu akhirnya tiba dan tanggal 8 Oktober 2018 saya berangkat dengan tujuan akhir California, Amerika. Penerbangan dari Jakarta dengan Eva Air bertolak siang hari dan seharusnya transit 2 jam di Taoyuan International Airport di Taiwan. Tapi ternyata flightnya delay selama hampir sejam yang artinya? Sampai di Taiwan saya harus lari-lari ngebut mencari Gate untuk connecting flight saya selanjutnya yang non-stop ke San Francisco International Airport.

Begitu keluar dari pesawat sambil terburu-buru saya nyalakan Java Mifi-nya dan ternyata langsung ON! Jaringannya pun langsung 4G. Sambil jalan cepat saya mengabarkan keluarga di rumah bahwa saya sudah tiba di Taiwan dan sedang menunggu penerbangan selanjutnya.

Flight saya tiba di airport San Fransciso tanggal 8 Oktober 2018 juga dengan waktu setempat kurang lebih jam 8 malam. Ajaib yah saya terbang tanggal 8 siang dan sampai di tujuan tanggal 8 malam padahal total penerbangan keseluruhan sekitar 16 jam. Hahaha makanya jetlag saya lumayan parah tapi soal itu nanti saya ceritakan di postingan terpisah ya.

Turun dari pesawat sambil berjalan menuju Imigrasi saya nyalakan Java Mifi dong dan sama seperti waktu di Taiwan, ternyata HP saya langsung terhubung dengan internet 4G yang pastinya cepet banget. WhatsApp langsung penuh dengan notifikasi dari beragam groups.

Nah, salah satu manfaat terbesar yang saya rasakan adalah saya bisa langsung online tanpa mengandalkan free WiFi di San Franscisco Airport atau tanpa perlu beli SIM Card dulu yang katanya kalau beli di SFO harganya mahal banget. Tau dong dollar lagi berapa kan? Phew! Lega banget rasanya sudah berbekal Java Mifi. Karena beberapa rekan Fellows dari Facebook juga ada yang tiba berdekatan dengan saya, kita sudah tergabung di group WhatsApp  supaya lebih mudah komunikasinya. Teman saya dari Mesir, Nermeen Abousalem yang founder komunitas Egyptian Single Mothers mengabarkan dia baru saja melewati Imigrasi dan dia tadinya mau nungguin saya. Tapi apa daya, ternyata antrian saya untuk melewati Imigrasi panjang luar biasa, ada sekitar 1 jam lebih saya berdiri ngantri. Akhirnya saya WhatsApp di group kami dan menyarankan Nermeen untuk berangkat duluan ke hotel. Dia pun menyanggupi. Nah, kebayang kan kalau tidak bisa online? Ribet pasti kan dan SFO Airport itu gede banget.

Walaupun tempat kami semua menginap termasuk hotel bintang 5 yang menyediakan WiFi gratis tapi sistemnya akan otomatis logout jika kita tidak aktif selama beberapa menit. PR banget kan yah makanya selama di hotel saya lebih mengandalkan Java Mifi. Maklum saya penganut anti ribet hahaha.

Oh ya, Java Mifi juga bisa bisa untuk sharing sampai 5 device lho. Ini nolong banget karena di pagi pertama di Silicon Valley saya dan beberapa Fellows memutuskan untuk cuci mata di mall terdekat. Mereka semua tidak punya SIM Card lokal dan mengandalkan Free WiFi saja yang pastinya nggak selalu ada (emang paling ok di Jakarta deh free wifi banyak bener!). Akhirnya supaya kami dapat terus komunikasi walaupun mencar di dalam Target, beberapa dari mereka nebeng menggunakan Java Mifi dan semuanya takjub juga terpesona dengan kecepatan 4G.

Selama kick-off program Facebook Community Leadership Program pun saya terbantu banget dengan Java Mifi ini karena ya saya tetap bisa terkoneksi kemana pun saya keluyuran selama di Kantor Pusat Facebook. Ya, nggak bisa keluyuran bebas juga sih tapi paling tidak saya bisa IG Live dengan lancar waktu kami diajak untuk campus tour (tur keliling) sambil mengagumi kantor Facebook yang super luas, super keren dan bikin sirik.

Java Mifi at Facebook Headquarters


Pokoknya bener-bener puas dengan kualitas koneksi Java Mifi selama saya di Silicon Valley.


Java Mifi onboard Eva Air


Nilai plus buat Java Mifi dari pengalaman pribadi saya:

  • Customer Servicenya keren banget. Pesan WhatsApp langsung dijawab dengan cepat, begitu juga DM di Instagram. Salut sama company yang mengedepankan customer service yang baik, cepat dan professional.
  • Proses pengembalian Java Mifi amat sangat mudah! Cukup re-pack lagi semua perangkat yang ada ke dalam box tempat paketnya pertama kali dikirimkan dan drop off saja di Indomaret atau Alfa terdekat. Yup, that simple, really! Saya beneran terkagum-kagum with their simple return policy. Karena kebetulan yang terdekat dari tempat saya Alfa, saya mampir ke Alfa setelah kembali ke Jakarta. Saya nggak perlu bayar biaya pengembalian apa-apa! Tidak sampai 5 menit prosesnya selesai. Luar biasa!
  • Pastinya koneksi 4G Unlimitednya sudah saya uji sendiri cepat dan urusan siaran Live di sosmed pun tidak pakai lagging. Keren banget pokoknya.

Will I use Java Mifi again? Absolutely! Buat teman-teman yang butuh travel mobile wifi, beneran deh cobain sendiri. Nggak bakalan nyesel pokoknya. Dijamin bisa bebas berinternet, berselfie ria apalagi urusan Live Streaming. Lancar deh pokoknya.

Silahkan kontak Java Mifi untuk info lebih lanjut ya. Mereka juga punya produk lain seperti International SIM Card juga Travel Wifi Indonesia untuk yang pengen jalan-jalan domestik.
WhatsApp Customer Service
Facebook Page:


On Coming Full Circle – A Reflection

On Coming Full Circle

On Coming Full Circle Scoops of Joy

Facebook style that is!

If you have been following my blog from way back then, you would know my backstory a bit. For those who are new, I will try to elaborate. In the meantime, please do get comfortable as I get the feeling that this post will be quite long.

How it All Began

In what seemed like a whole different lifetime ago, I was married to an American man. We tied the knot on a beautiful day of autumn, early September 2005, in Latham, New York. It was a really small wedding. Nothing fancy. Just him, me, his son and his then-girlfriend also our pug. Came to America with the now famously made TV show 90 Day Fiance – which by the way, a very cringed worthy show but that’s a whole other post on its own – visa and we did have 90 days to get married.

Looking back now, I feel for the old Maureen. She was young, naive and only saw love through a distorted thick rose-tinted glasses. He was my ‘escape’ from the crazy dating scenes in Jakarta. My naive mind went “Great, now I’m married and life should automatically be happily ever after, right?” Wrong!

Ladies, this is my public service announcement. Please, DO NOT put that responsibility to make YOU happy in someone else’s hands. That’s a total recipe for disaster and I’ve crawled through that hell. You are responsible to make you happy, it is not your partner/boyfriend/husband/children’s jobs. Took me a divorce and a whole lot of heartache to realized this oh, so important life lesson.

My marriage quickly fell apart in under 5 years, we have a son together, born in a small town in Alabama. He, my ex, got a job in Guangzhou, China and I was there for only 2 months out of the whole year contract he had. In that year, because of my Conditional Permanent Resident (green card) status, I had to return to America and we were hoping we could apply for my Permanent card (valid for 10 years) while I was there in 2009. We hit a roadblock due to the rules and all that.

My son and I left America through Los Angeles, California on a cold January afternoon a decade ago to flew straight to Guangzhou, China. Strangely enough just before our flight took off, I had these unexplainable feelings in my guts that would be the last time I stepped foot in America. At the time, my marriage was already deep in the trenches so leaving America felt like a closure, in a way I just wasn’t quite aware of yet.

Our short stint of trying to build a new life in China didn’t go as planned. He was there and I was in Jakarta living with my son and families. He came to Jakarta at the end of his contract and we tried again to play house in the ruin of us and that spiraled down fast. We got divorced in 2010 and I fell deep into the dark pit of depression, swam through the painful parts of divorce and it’s aftermath.

After all the drama of divorce, I am glad my ex and I was on really good terms when he passed away from cancer last December. May he rest in peace.

Truth be told, I never imagined going back there ever again especially after I face the final curtain.

What Brought Me Back

Who knew that the support group I started 4 years ago would somehow take me back to the old US of A?! Never dream about it, never plan for it. Heck, not even in my wildest dreams but that’s exactly what has happened earlier this month.

Who knew the group that was born out of the demise of my marriage would take me back to America?! Crazy, right? But that’s how this chapter of my life unfolds in its magical ways.

Single Moms Indonesia was selected as one of the fellows on this first global initiative started by Facebook called Facebook Community Leadership Program. Our community has been chosen out of over 6,000 applicants worldwide. I will write more about this experience later – so stay tuned!

Being a true INFJ, I was engulfed by all kinds of different emotions since I found out Facebook is flying me to join more than 115 other community leaders from 46 countries to do the kickoff of FCLP in Menlo Park, California. California?!

I went from being worried sick that my visa would be denied – it’s a long story – to have to deal with my own imposter syndrome of being amongst these great world changers from all over the world. Bittersweet sounds like a perfect word to describe how I feel deep inside. Sweet that a company as huge as Facebook saw something in our small community that they are willing to support us.

There’s also a twinge of sadness that hung heavily in the back of my mind. Knowing how this community has become my life. I have been accused of putting it first above all else in life, I’ve been heavily gossiped about, been accused of crazy things. I sacrificed so much even at the cost of my own relationship which is something I didn’t see coming and still healing from. Just typing that sentence alone still sting me but no, no regrets!

It all came full circle in a sense…

Life can be strangely amusing sometimes but no, no regrets!

What I Learned

On Vulnerability Scoops of Joy

Allow me to be transparent here on this platform. To be brutally honest and vulnerable.

Running Single Moms Indonesia hasn’t been easy. If anything it is damn hard but all of these times I choose to hide the hardships, the tears, the struggles from our members, from the world. I decided to only share the positive aspects.

Until one of the amazing team behind FCLP, Sarah Schonberg poignantly asked: “What would happen if you shared the hard stuff with your group?

Bam! I was floored. All of these times I always thought I need to put a persona that I have it all together. Keeping the struggle all to myself (and a few very well trusted friends) but you know what, trying to hold everything in left me feeling suffocated at times even coming close to call it quits altogether.

Being vulnerable somehow felt like a scary thing to do for the group I love. Maybe because of the image I wanted to portray. The strong independent face I wanted our group to know. Yet behind the closed door, life is messy…running a group of over 600 women is not easy and it can be a lonely place to be even when I love the group with every ounce of my being. Convincing others to support us hasn’t been a smooth sailing journey either. God only knows how many tears I’ve shed in frustrations over these years, how much sweats I’ve literally dropped going here and there under the scorching Jakarta’s sun in seeking sponsorships and trying to form collaborations with others.

Come to think of it, isn’t that what started me off on this journey in the first place?

Me being authentic, open and brave enough to talk about the pain, about the challenges we face here in Indonesia as single mothers, about my anger, my struggles, on this very blog that started our community? It was through being raw and honest that Single Moms Indonesia was actually born. This realization hit me like a lightning. Hell yeah, why am I stopping myself from being seen AS IS by my community?!

I am Maureen and I am the founder of the first support group for single mothers in Indonesia! I am imperfect, I have my flaws and shortcomings but I am here to learn and to evolve. And so it is…

Maureen Single Moms Indonesia FCLP

And then there’s the other side…

The other side of the coin that I rarely discuss. The struggle of following your passions or going for the security of having a steady income as a single mother.

This is the path I had struggled with for so long and now the door is wide open.

I floated back and forth between working full time in the corporate world and committing myself fully for our cause.

As a single mother, people might think I am crazy to pour all of my time and energy in developing and running this group that didn’t give me any profit. I have a child that needs to be fed, clothed, and provided. I am a sole breadwinner. Yes, I am very much aware of that, thank you. Yet whenever I was working full time, I found myself unable to juggle everything else and most importantly, I was miserable! Not living my truth was difficult. Not following my passion felt like a death sentence.

Then Facebook changed my life forever. If this is not the biggest signs from God, from the Universe, I don’t even know what! This is no longer a nudge, more like an “In your face, girlfriend!” type of sign and confirmation that I am indeed on the right path. That following my passions and calling was never a wrong thing. That doing things from the heart will always bring you joy. That all the sacrifices I’ve made to come these far will be rewarded greatly. My rewards came from tiny victories of hearing how our members feel supported, helped and heard. Seeing they help each other out. Seeing how some of them has grown and had rebuilt their lives again gave me the utmost joy.

Abundance has been shown to me times and times again to be more than the number in my bank account. Abundance is having a big crazy family that supports me fully when I have to leave my son for FCLP kick-off. Abundance is the kindness of strangers I just met, through comforting hugs from new friends from all over the world. Through the acknowledgment from Facebook that indeed our community matters. Through this new tribe, I discovered from FCLP, the people who get it. Those who knew all the struggles and the hard work it involves in doing things for different causes that matter most to our hearts. These are the people I needed in my life at this stage. For that, I am so freaking grateful!

Abundance is everywhere.

Now tell me, what’s your coming full circle stories? I’d love to hear from you.


Familia Urban Solusi Tumbuh Kembang Positif Anak

Sebagai Ibu Tunggal yang membesarkan anak semata wayang saya sendiri, salah satu faktor penting yang menjadi pertimbangan saya saat mencari hunian pastinya keamanan juga kenyamanan lingkungan bukan hanya faktor harga rumah yang akan kami tempati.

Kenapa faktor lingkungan penting bagi tumbuh kembang anak?

Karena rumah memegang peranan penting. Anak-anak yang dibesarkan di rumah dengan banyak cinta pasti akan bertumbuh kembang menjadi orang-orang yang juga penuh cinta dan kebaikan. Lingkungan yang aman yang memberikan ruang bagi anak-anak untuk menikmati masa kecilnya juga memegang pernanan penting.

Saya masih ingat betul betapa bahagianya masa kecil saya di kampung dulu. Saya bebas naik sepeda keliling kompleks perumahan tanpa pernah merasa takut. Sayangnya di Jakarta hal ini menjadi luxury yang tidak lagi dapat dinikmati semua anak-anak kita. Kerinduan saya adalah suatu hari nanti dapat memberikan hal serupa pada anak saya.

Masa kanak-kanak seharusnya tidak menimbulkan stress tapi alangkah kagetnya saya ketika membaca satu artikel di Kompas perihal tingkat stress pada anak-anak belakangan ini. Dari sebuah penelitian terhadap 113 anak yang tinggal di lingkungan buruk menunjukan tingkat kortisol rata-rata (penanda biologis dari respon stres tubuh) mencapai 75 persen. 75% itu tinggi banget lho!

Kortisol adalah ukuran dorongan stres biologis, dan peningkatan kadarnya pada anak-anak berdampak buruk bagi kesehatan fisik dan mental. Kadar kortisol yang tinggi berhubungan dengan beberapa penurunan fungsi kesehatan. Misalnya, peningkatan gula darah dan tekanan darah, nyeri punggung, penipisan tulang, obesitas, insomnia, kecemasan serta kelelahan.

Sangat memprihatinkan yah?

Oleh sebab itu saya bahagia sekali dapat hadir di Booth Timah Properti  yang keren banget di Indonesia Property Expo (IPEX) 2018 hari Sabtu lalu.

Menghadirkan narasumber Ibu Reynitta Poerwito, Bach. Of Psych., M. Psi seorang Psikolog Klinis dari Eka Hospital BSD, ada Zata Ligouw, Editor In-Chief Lolamagz yang keren abis bersama Bapak Teguh Suhanta Manager Realty Familia Urban.

Penjelasan Ibu Reynitta tentang pentingnya peran orang tua dalam membesarkan anak dalam lingkungan yang baik seperti semakin membuka mata kami para peserta. Ada banyak sekali tips yang dibagikan Ibu Reynitta di acara talk show ini. Saya coba rangkum beberapa pointersnya di bawah ini ya. Semoga bermanfaat.

  1. Peranan Lingkungan dalam tumbuh kembang anak dapat bersifat positif atau negatif
  2. Tugas utama orang tua/pengasuh/pendidik adalah untuk menciptakan atau menyediakan lingkungan yang positif agar dapat menunjang perkembangan anak dan berusaha untuk mengawasi serta menghindari pengaruh lingkungan negatif yang dapat merusak atau menghambat perkembangan potensi anak
  3. Orangtua butuh lingkungan yang dapat dipercaya agar dapat memberikan kebebasan kepada anak untuk mengeksplor lingkungan sekitarnya
  4. Secara alami anak-anak terlahir memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar oleh sebab itu penting bagi mereka untuk dapat berekspolarasi
  5. Proses pembelajaran anak-anak tidak hanya terjadi di dalam rumah tapi juga di luar rumah
  6. Jumlah waktu bermain di luar rumah dapat mempengaruhi tinggal stress level pada anak-anak kita
  7. Anak perlu diberikan kesempatan untuk bermain diluar ruangan dengan alasan berikut:
  • Frontiers in Pysch: Meningkatkan motivasi dalam belajar
  • Membangun rasa percaya diri terutama dalam bersosialisasi
  • Melatih sensor motorik anak
  • Belajar secara aktif
  • Menyehatkan fisik dan membentuk pola pikir anak yang kreatif

Ternyata bermain di luar rumah itu jadi salah satu faktor penting dalam proses tumbuh kembang anak-anak ya. Walaupun ruang main yang aman dan nyaman di Jakarta semakin susah di cari tau nggak sih ternyata Bekasi punya Familia Urban yang dikembangkan oleh PT. Timah Properti dengan konsep landed house (rumah tapak) yang menyatu dengan alam, di mana halaman merupakan bagian yang tak terpisahkan dari rumah dan merupakan tempat tinggal yang ideal bagi anak untuk tumbuh dan berkembang.

Mendengarkan penjelasan dari Bapak Teguh Suhanta, Manager Realty Familia Urban perihal perencanaan Familia Urban ini bikin saya pengen pindah ke Bekasi! Selain dibangun dengan mempertimbangkan keluarga kecil dengan anak, pembagian kawasan juga jadi pertimbangan penting bagi PT. Timah Properti dalam pengembangan lokasi ini. 

Karakter masterplan yang ingin dihadirkan yaitu kawasan yang terbuka (open city), dimana kawasan didesain padat, heterogen, dan memiliki diversitas yang tinggi. Pertumbuhan secara horizontal ditunjang dengan pemanfaatan ruang terbuka publik yang tinggi akan menghasilkan fenomena ever-growing community.

Untuk yang masih ragu dan mikir Bekasi jauh, udah deh, mending mampir aja dulu ke JCC ke boothnya Familia Urban ya. Lokasi perumahannya bisa diakses dari empat tol. “Hunian ini bisa diakses melalui jalan tol Jatiasih, Bekasi Timur, Bekasi Barat, dan Tambun” demikian dijelaskan Pak Teguh.

Nah, untuk teman-teman yang masih mencari hunian yang aman, nyaman demi buah hati tersayang masih ada waktu nih untuk mampir ke booth PT. Timah Properti di IPEX 2018 di Jakarta Convention Center sampai tanggal 30 September 2018. Lokasinya di JCC, Hall B, No. 39-40.

Untuk informasi lebih lanjut silahkan menghubungi PT. Timah Properti ya.

Marketing Gallery Familia Urban:
Jl. Mandor Demong, Mustikajaya
Bekasi 17157 – Jawa Barat

The Secret of Letting Go

How do you let go?

How do you cut the cord that has been attached to your heart and soul for 5 years?

The Secret of Letting Go

Let it Be

You retreat…

You withdraw from life and it is OK to feel defeated

It is okay to cry yourself to sleep

It is okay to silently weep

All your feelings are valid

There is no deadline

Feel the waves of grief that came up

Allow whatever come up the surface

Just remember to breathe

I know, I understand it is easier than done

Just remember to be kind to yourself

Don’t judge nor hold a grudge

Sometimes life has strange and unpredictable ways to bring about her lessons if only we are willing to let go and to see the true meaning behind the pain you are sailing through at the moment.

So take your time, dear one.

Sit alone with your pain and heartache

Feel the pulsating ache as they come and believe me, they will come sometimes when you even least expected it.

A picture…

A song…

A place…

They could easily bring back the memories and your tender heart will let you know the pain of being cracked open again.

Yet there is beauty in being raw

In being brutally honest with your emotions

Because in doing so it will allow you to examine your thoughts, fears, anger, and despair.

Know that you are LOVED by the Universe, by God!

Even when it hurts like a fucking bitch

You are LOVED and the Universe has your back, always.

You may not know how to let go just yet

And that is OK!

Just remember that you are exactly where you needed to be to expand your soul.

Please know that this too shall pass even when you just can’t see how you can swim across this turbulent wild sea that life plunged you in. You will be fine, I promise you.

So stay strong,

Let your heart bleed and heal naturally.


Let me leave you with this video from Jeff Foster that helps me in just Let it Be! It is a truly beautiful reminder that what you resist, persists. That sadness is not asking to be let go off, sadness is not asking to be healed. That the best way is to Let it Be.

Take care, dear friends. I hope this writing and video can help you heal whatever you need to heal.