Antara Bullying Real Life Dan Cyber Bullying

Sudah lihat berita anak SD yang dianiaya temannya di sekolah yang beberapa hari ini jadi viral di media sosial?

Saya yang tadinya tidak mau klik play jadi nonton dan akhirnya saya yang nangis, dada sesak rasanya.

Anak-anak kecil ini kenapa bisa begitu sadis? Korbannya si anak perempuan kecil itu kelihatan tidak berdaya.

Bisa nggak sih dibayangkan traumanya si anak tersebut? Lebih sedih lagi saat tadi pagi membahas kejadian ini di group ibu-ibu kelas anak saya. Salah satu Ibu mengabarkan berita yang dia dengar dari radio pagi ini bahwa anak yang dianiaya tersebut adalah anak perempuan yang baik, suka berbagi uang/roti ke sesama teman-temannya. Dan yang lebih miris lagi kejadian dia dipukulin ini hanya karena si anak menolak untuk ngasih Rp. 2,000 ke salah satu temannya. Si teman yang ‘malak’ lalu minta teman-teman lainnya untuk mukulin si anak perempuan ini.

Si anak pertama kali dipukulin pernah melapor ke sekolah, tapi entah kenapa kemudian jadi nggak berani lagi melapor saat dianiaya lagi. Dia pun takut dan tidak berani ngasih tau orang tua.

Untuk urusan pihak sekolah saya nggak mau komentar banyak karena saya juga nggak tau detailsnya.

Saya nggak habis pikir kok bisa-bisanya anak SD yang kecil-kecil itu mukulin temannya sendiri secara sadis sampai ditendang seperti karate begitu?!

Apa pengaruh TV? Pengaruh game? Pengaruh film yang penuh kekerasan?

Kejadian anak sekolah bullying begini sudah sering kejadian di Indonesia. Sedihnya lagi bukan hanya di sekolahan atau kampus. Lihat saja maling di Indonesia yang bisa mati digebukin masa. Kadang suka merasa prihatin kita ini orang Indonesia terkenal baik dan ramah tapi kok ya kejadian sadis begini banyak banget kejadian?

Coba berapa banyak kejadian pengendara motor/mobil yang juga dihakimin masa karena kecelakaan?

Bully Free Zone

Cyber Bullying Is Just As Bad

Media sosial sekarang ini sudah makin canggih. Kelakuan artis-artis mau yang dari luar negri sampai dalam negri dengan gampang bisa kita lihat dan dengan gampangnya jadi trending topic.

Jujur saya juga kadang senyum-senyum sendiri ngeliat tingkah artis-artis ini kalau ngeliat meme yang beredar di media sosial. Tapi lama-lama saya jadi mikir apa bedanya cela-celaan ini dengan Cyber Bullying?

Mungkin awalnya sekedar buat lucu-lucuan tapi lama-lama makin kasar/masin fisik cela-celaannya dan gambar meme ini nyebar kemana-mana. Mulai dari artis, merek biskuit sampai kota Bekasi ikut jadi korban. Belakangan saya jadi mikir kok ya lama-lama udah nggak lucu lagi. Dimana batas antara becanda dan bullying? Rasanya batasannya makin tipis dan rancu belakangan ini. Beberapa meme humor ini jadi melewati batas dan lebih ke cyber bullying.

Cyber bullying di Indonesia mungkin belum sampai separah di negara-negara barat – dan semoga nggak akan separah itu – tapi berita soal anak-anak remaja yang sampai bunuh diri karena di bully secara online banyak beredar dan sebagai orang tua penting buat kita untuk mulai mikir when to say enough is enough.

Selain faktor didikan orang tua untuk mencegah anak-anak nonton film-film dengan rating dewasa, main game yang sadis, dan nonton kartun di TV yang mempromosikan kekerasan fisik, mungkin sebagai orang tua juga kita wajib berkaca pada diri sendiri.

Apakah kita juga secara tidak langsung mempromote cyber bullying dengan ikut menyebarkan meme-meme yang kita pikir lucu tapi ternyata lebih banyak menghina/menghujat?

Apakah kita mengajarkan anak “Kalau dipukul kamu harus pukul balik!” Nah ini parah juga yah tapi gw pernah kok denger tipe didikan yang begini.

Banyak yang perlu kita renungkan yah.

Gimana caranya kita bisa membantu anak-anak kita untuk tidak menjadi korban bullying atau menjadi pelaku bullying?

Photo from Eddie~S

Comments

comments

Follow:
Maureen

Lifestyle and travel blogger, founder of Single Moms Indonesia on a quest of finding joy in everyday life and living life to the fullest with kindness, compassion, grace and a bit of sass.

Find me on: Twitter | Facebook

Share:

3 Comments

  1. October 19, 2014 / 12:52 am

    kalau aku tidak pernah ambil pusing mengenai hinaan tp klo bullying emang bikin serem sih mbak

  2. October 21, 2014 / 12:20 pm

    Saya mau bilang pesimis ya gimana ya, masa jadi orangtua kok pesimis? Tapi kenyataannya di jalan saja hampir tiap hari ada orang melotot, bahkan memaki saya meski mereka yang salah ambil jalur yang berlawanan atau tidak sabar antri. Yang sambil lalu nggak kenal saja seperti itu, apalagi yang kenal secara intensif dan mengerti anak2 mana yg lemah & mudah dibully. Lagipula kita juga permisif karena pelaku sama2 anak2. Tidak ada yang bertanggung jawab terhadap korban. Kalau si pelaku dipandang terlalu kecil untuk mengerti akibat perbuatannya, seharusnya orangtua pelaku dipaksa ikut bertanggung jawab. Tidak boleh dianggap selesai dengan saling memaafkan dimedia saja.
    Lusi recently posted..Survei Kecantikan, Mengungkap Rahasia CantikMy Profile

  3. October 22, 2014 / 8:39 am

    Gue liat thu videonya Yen, tadinya sama ga pengen klik play tapi lama2 penasaran. Itu gurunya apa ga taunya? Dan ga ada satupun temennya yg nolongin ya. Miris ngeliatnya. Karena kalo dari anak2 segitu aza uda violent bagaimana dewasanya? Sebel banget gue liat tingkahnlakunya si pelaku dan temen2nya. Kalau disini bullying seperti itu ga bisa diterima, simanak bisa dikeluarin dari sekolah. Semoga, anak2 Indonesia lainnya ga terpengqruh dan tidak menganggap ini sebagai role model ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.